Rabu, 18 Agustus 2021

Diri, Literasi, dan Tentang Mimpi

Membaca adalah jendela dunia. Agaknya, kutipan itu seringkali kita dengar. Namun, sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh sebagian orang. Padahal, membaca  merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat.  Membaca merupakan bagian dari literasi. Dengan perkembangan zaman yang semakin melesat tentu saja literasi memberikan dampak yang besar. Karena, tanpa literasi tentu saja kehidupan terhambat dan bisa jadi tidak berjalan. Maka dari itu harus menjadikan literasi sebagai kawan baik dan menjadikannya budaya.

Budaya literasi tidak dibangun hanya dalam semalam. Budaya literasi harus diasah dan dilakukan dari sedini mungkin. Semakin awal kita sadar betapa pentingnya meningkatkan budaya literasi, semakin banyak kesempatan dan peluang yang akan kita capai. Mungkin tidak akan mudah, karena awalnya tidak terbiasa, tetapi jika kita mau dan terus berusaha konsisten pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal.  Kemudian, budaya literasi yang telah dibangun sejak dini akan berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas diri. Terbukti, Alm. B.J Habibie bisa lulus di ITB, kuliah di Jerman dan menciptakan pesawat serta memiliki kualitas diri yang baik karena sejak kecil telah diberikan buku bacaan dari Ayahnya atas setiap pertanyaan anak – anak yang dia miliki. Tidak hanya Habibie, tokoh – tokoh besar lainnya di Indonesia seperti R.A Kartini, Mohammad Hatta, K.H Abdurrahman Wahid juga memiliki kebiasaan membaca buku untuk meng – upgrade kualitas diri mereka. Coba bayangkan jika mereka malas membaca buku? Apakah ada Indonesia yang seperti sekarang?

Dari sana dapat dilihat bahwa literasi sangat penting untuk dijadikan budaya. Dari mulai peningkatan kualitas diri, yang berdampak untuk masa depan dan cita - cita. Contoh, meningkatnya pengetahuan akan ekonomi, ketepatan dalam berbahasa baik bahasa Indonesia, asing, maupun daerah, dan lainya. Serta, bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Yang akan berdampak juga untuk generasi selanjutnya. Nah, sayangnya menurut survei Program for International Student Assessment (PISA) yang rilis tahun 2019 di Organization for Economic Co – operation (OECD), dari 70 negara Indonesia berada di peringkat ke – 62. Padahal, malas berliterasi memberikan dampak buruk untuk diri sendiri. Seperti, tertinggalnya informasi, kualitas diri menjadi rendah, jika kualitas diri rendah pun nantinya kita juga akan memiliki daya saing yang rendah dan tergilas oleh yang lainnya. Kita pun hanya akan menjadi penonton stories instagram orang – orang sukses. Kemudian, malah insecure, tidak percaya diri, dan berakhir pada kesusahan.

Tentu saja, tidak ada yang mau hidup dalam kesusahan. Berliterasi dan belajar memang banyak sekali tantangannya. Namun, seperti kata Imam Syafi’i “Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.” Maka dari itu, budaya literasi harus kita terapkan agar kualitas diri meningkat dan terhindar dari kesusahaan. Semangat literasi, semangat tingkatkan kualitas diri.

Diri, Literasi, dan Tentang Mimpi

Membaca adalah jendela dunia. Agaknya, kutipan itu seringkali kita dengar. Namun, sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh sebagian orang. ...